Iklan

Iklan

5 Tuntutan SPRI Dalam Demo Di Dinas Sosial Kabupaten Cianjur

Jurnal News Site
Wednesday, September 19, 2018, September 19, 2018 WIB Last Updated 2018-10-04T13:59:55Z

Cianjur,Jurnal News Site.
Sudah  belasan  tahun  pemerintah  Indonesia  menjalankan  berbagai  program  bantuan  tunai  dan pangan  untuk  rakyat  miskin.  Diantaranya  adalah  Program  Keluarga  Harapan  (PKH)  dan  program Beras  Sejahtera  (Rastra)  atau  Bantuan  Pangan  Non  Tunai  (BPNT).

PKH  adalah  program  bantuan tunai  kepada  Rumah  Tangga  Sangat  Miskin  (RTSM),  sementara  Rastra  atau  BPNT  adalah bantuan pangan  kepada  Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Untuk  menyalurkan  program  PKH  dan  Rastra,  pemerintah  melakukan  penggolongan  keluarga miskin  dengan  mengacu  pada  survei  BPS  dan  Kemensos.  Pertama-tama,  data  survei  tersebut menggolongkan  40%  keluarga  dengan  pendapatan  terendah  sebagai  “rumah  tangga  miskin.”  Dari 40%  rumah  tangga  miskin  itu,  25%  terendahnya  ditetapkan  sebagai  keluarga  “sangat  miskin  dan miskin”  yang  berhak  mendapatkan  Rastra. 

Dan  10%  terendahnya  ditetapkan  sebagai  keluarga “sangat  miskin”  yang  berhak  mendapatkan  PKH.  Adapun  15%  sisanya  dari  40%  rumah  tangga miskin  ditetapkan  sebagai  lapisan  “hampir  miskin”  dan  dianggap  tidak  pantas  menerima  PKH  dan Rastra.

Dalam  program  PKH  dan  Rastra/  BPNT  ini,  terdapat  berbagai  masalah  pendataan.  Masalahmasalah pendataan itu adalah  sebagai berikut: Untuk  mengidentifikasi  penerima  bantuan  sosial  (termasuk  Rastra  dan  PKH)  berdasarkan  kriteriakriteria  yang  sudah  ditetapkan,  pemerintah  membuat  sistem  pendataan  yang  disebut  Basis  Data Terpadu  (BDT). 

BDT  tahun  2017  bersumber  dari  hasil  sensus  penduduk  2015  oleh  BPS.  Artinya, penyaluran Rastra dan  PKH seharusnya didasarkan pada BDT tahun 2017 tersebut. Namun,  basis  data  yang  digunakan  untuk  penyaluran  Rastra  dan  PKH  pada  2017  tidak  konsisten.

Data  penerima  Rastra  dan  PKH  tersebut  tidak  sepenuhnya  bersumber  pada  BDT  tahun  2017. Banyak  penerima  Rastra  dan  PKH  yang  bersumber  dari  data  hasil  Pendataan  Program Perlindungan  Sosial  (PPLS)  tahun  2011.  Akibatnya,  pada  penyaluran  tahun  2017,  ada  banyak penerima  bantuan  yang  tidak  bisa  mencairkan  kartunya  karena  datanya  bersumber  dari  PPLS 2011. Dalam  BDT  tahun  2017,  terdapat  banyak  data  yang  tidak  akurat,  seperti  tidak  sesuai kriteria,  tidak ditemukan  keberadaannya,  dan  sudah  meninggal. 

Ada  yang  sudah  mampu  tapi  menerima  PKH, ada  juga  yang  malah  tergolong  rumah  tangga  sangat  miskin  tapi  tidak  menerima  PKH. Berdasarkan  pantauan  SPRI,  terdapat  10  dari  setiap  100  penerima  sasaran  yang  tidak  sesuai kriteria,  tidak  ditemukan  dan  telah  meninggal  dunia.  Secara  nasional  kami  menduga  ada  1  Juta data seperti ini. Untuk  memperbaiki  BDT  agar  akurat  dan  tepat  sasaran,  sejak  2015  pemerintah  membuat mekanisme  pemutakhiran  data  yang  bernama  Mekanisme  Pemutakhiran  Mandiri.  Melalui  MPM, warga  yang  belum  terdaftar  bisa  mendaftarkan  diri  di  daerahnya.  Masal

pelaksanaan  MPM  tidak  diketahui  oleh rakyat.  MPM  2018  berjalan  tanpa  pengawasan  oleh  rakyat. Hal  ini tentu berdampak pada  hasil MPM yang tidak akurat. Sistem  ‘ranking’  dan  penetapan  data  sasaran  penerima  bantuan  sosial,  termasuk  Rastra  serta PKH,  tidak  membuka  ruang  yang  melibatkan  rakyat.  Penetapan  itu  dilakukan  secara  sepihak  oleh Kemensos dan  Tim Nasional  Percepatan  Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Akibatnya, masih ada  13  juta  keluarga  miskin  yang  tidak  tercatat  sebagai  penerima  Rastra  dan  PKH.

Hal  ini menimbulkan rasa  ketidakadilan di  kalangan  rakyat. Selain  masalah  pendataan  di  atas,  masalah  penting  lainnya  terkait  program  bantuan  sosial  adalah bahwa  program  ini  cenderung  menjadi  alat  elit  politik  untuk  meraih  dukungan.  Politisasi  program bansos  untuk  kepentingan  sempit  elit  merupakan  sebuah  kejahatan.  Misalnya,  penerima  Rastra dan  PKH  di  Jawa  Timur  lebih  banyak  daripada  di  Jawa  Barat,  padahal  jumlah  penduduk  Jawa Barat  lebih  banyak  daripada  Jawa  Timur. 

Diduga  hal  seperti  ini  terjadi  karena  adanya  kepentingan politik  salah  satu  kandidat. Seperti  diberitakan  oleh  media  masa  bahwa  pada  tahun  2017  di  Jawa  Barat  tercatat  sebanyak 1.025.988  Keluarga  Penerima  PKH,  tahun  2018  bertambah  419.741  Keluarga,  totalnya  menjadi 1.445.729 Keluarga[1]. Di Jawa Timur tahun  2017  tercatat sebanyak 1.077.294  Keluarga Penerima PKH,  tahun  2018 bertambah 435.334,  totalnya  menjadi  1.512.628  Keluarga[2].  Hal ini  menunjukan bahwa penambahan data lebih  banyak  di  Jawa Timur. Kemudian,  masalah  penting  lainnya  adalah  banyaknya  tindak  penyelewengan  dalam  penyaluran Rastra  dan  PKH.

Misalnya,  masalah  pungutan  liar  (pungli)  oleh  e-warung  atau  pendamping  PKH. Ada  juga  masalah  ratusan  kartu  yang  disita  oleh  pendamping  PKH.  Lalu,  ada  juga  duit  PKH  yang dibawa  lari  pendamping  PKH  atau  diambil  perangkat  desa.  Warga  miskin  biasanya  tidak  berani melaporkan  masalah  ini  karena  oleh  pendamping  atau  penyelenggara  program  diancam  tidak akan  mendapatkan  bantuan  sosial.  Mereka  yang  melaporkan  pun  juga  mendapat  ancaman  dari penyelenggara.

Oleh karena  itu, Serikat Perjuangan  Rakyat Indonesia (SPRI) menuntut: 1.  Segera Rombak  dan Perbaiki Basis  Data Terpadu (BDT); 2.  Ubah Kriteria  Miskin dan Garis  Kemiskinan; 3.  Perbesar APBN untuk Bansos PKH-Rastra; 4.  Libatkan  Rakyat Miskin dalam setiap  penetapan kebijakan  penanganan kemiskinan; 5.  Rakyat Miskin perlu  perlindungan  sosial partisipatif yang dapat mensejahterakan;
Liputan Asep Ridwan

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • 5 Tuntutan SPRI Dalam Demo Di Dinas Sosial Kabupaten Cianjur

Terkini

Iklan