Kayong Utara – JurnalNewssite.Net.
Kelangkaan BBM, khususnya Pertalite, di Kabupaten Kayong Utara kembali dikeluhkan masyarakat. Aktivis Serikat Buruh sekaligus pemerhati kebijakan publik Kabupaten Kayong Utara, Abdul Khaliq, menilai masalah ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah kuota, tetapi harus dibarengi pembenahan distribusi.
"Kalau kuota ditambah tetapi distribusinya tetap seperti sekarang, kelangkaan akan terus terjadi. Yang berubah mungkin hanya lokasinya."
Ia mempertanyakan mengapa kondisi sekarang justru lebih sulit dibanding sebelumnya, padahal kuota BBM dinilai tidak jauh berbeda.
"Dulu masyarakat masih relatif mudah mendapatkan BBM. Sekarang kelangkaan terus dikeluhkan. Jadi jangan hanya melihat dari sisi kuota, distribusinya juga harus dievaluasi."
Menurutnya, kondisi geografis Kayong Utara yang luas dan jumlah SPBU yang terbatas membuat masyarakat tidak bisa hanya bergantung pada SPBU. Di Sukadana ada dua SPBU, namun hanya satu yang menjual BBM bersubsidi. Simpang Hilir hanya satu SPBU, Teluk Batang dua, sementara kecamatan lain juga masih terbatas.
"Tidak realistis kalau semua masyarakat harus antre di SPBU. Bagaimana dengan warga yang jauh dari SPBU? Ini harus dipikirkan pemerintah."
Abdul Khaliq meminta pemerintah daerah berkoordinasi dengan Pertamina dan pihak terkait untuk mencari skema distribusi yang lebih merata. Ia juga mendorong agar titik penyaluran resmi di wilayah jauh dari SPBU bisa diperluas, termasuk kemungkinan melibatkan pengecer atau warung yang memenuhi syarat dengan pengawasan ketat.
"Kalau aturan memungkinkan, pemerintah harus berani mencari terobosan agar masyarakat tetap mendapat BBM dengan harga wajar."
Ia menegaskan, persoalan BBM bukan hanya soal pasokan, tetapi juga pemerataan akses.
"Kuota ditambah tanpa pemerataan distribusi tidak akan menyelesaikan masalah."
Abdul Khaliq juga mengingatkan bahwa Kayong Utara akan menjadi tuan rumah MTQ Tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada Agustus 2026. Menurutnya, kebutuhan BBM akan meningkat saat ribuan peserta dan tamu datang.
"Jangan sampai kita sibuk mempersiapkan MTQ, tetapi persoalan BBM belum selesai. Kalau distribusi tidak dibenahi dari sekarang, masalah ini bisa makin besar."
Ia berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh agar masyarakat tidak terus menjadi korban kelangkaan BBM.
"Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar janji penambahan kuota, tetapi BBM yang tersedia, mudah diakses, dan terdistribusi merata."
Abdul Khaliq menegaskan, penambahan kuota penting, tetapi tanpa pembenahan distribusi, kelangkaan BBM di Kayong Utara akan terus berulang.
"Intinya sederhana: pasokan harus cukup, tetapi distribusi wajib merata."
(Tim).


