Pageviews last month

Iklan

Iklan

Milangkala Komunitas Asep-Asep Satu Dekade Tingkat Nasional Berlangsung Khidmat di Keraton Gedung Negara Sumedang.

Jurnal News Site
Monday, July 20, 2026, July 20, 2026 WIB Last Updated 2026-07-20T13:27:21Z





Sumedang – Jurnal News Site

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komunitas Asep-Asep (KAA) menggelar peringatan Milangkala ke-10 atau Satu Dekade di kawasan Keraton Gedung Negara Sumedang Larang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu dan Minggu, 18–19 Juli 2026. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah dengan dihadiri sekitar 17 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komunitas Asep-Asep dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat.



Para Ketua DPD yang hadir di antaranya berasal dari Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Garut, Purwakarta, Sumedang, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung, serta daerah lainnya yang turut memberikan dukungan terhadap suksesnya penyelenggaraan Milangkala Satu Dekade tersebut.



Rangkaian kegiatan diawali pada Sabtu (18/7/2026) dengan penyelenggaraan Ritus Seni Tradisi Tarawangsa. Seni Tarawangsa merupakan salah satu kesenian tradisional Sunda yang erat kaitannya dengan siklus kehidupan agraris, terutama dalam berbagai upacara adat yang berhubungan dengan pengolahan padi, seperti tradisi Ngalaksa. 




Kesenian ini dimainkan sebagai sarana memohon keberhasilan panen sekaligus sebagai manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki dan hasil bumi.



Sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara, Seni Tarawangsa telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia. 


Penetapan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian agar tradisi luhur masyarakat Sunda tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.



Berangkat dari semangat tersebut, Sekretaris Jenderal DPP Komunitas Asep-Asep, Asep Suwarman, A.Md., menggagas penyelenggaraan Ritus Seni Tradisi Tarawangsa sebagai bagian dari rangkaian Milangkala Satu Dekade Komunitas Asep-Asep. 



Kegiatan ini menjadi ungkapan rasa syukur atas perjalanan organisasi yang telah menginjak usia 10 tahun sekaligus bentuk komitmen komunitas dalam melestarikan seni tradisi yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.



Puncak acara Milangkala digelar pada Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 10.00 WIB di area Keraton Sumedang Larang. Acara diawali dengan prosesi penjemputan Lengser, Rajah, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, salawat Nabi Muhammad SAW, sambutan-sambutan, pertunjukan Tari Jaipong sebagai simbol pelestarian budaya Sunda, serta penyerahan tambahan santunan kepada enam peserta khitanan massal yang telah dilaksanakan sehari sebelumnya.



Dalam sambutannya, Ketua Panitia Milangkala Asep Dedi yang juga Ketua DPD Komunitas Asep-Asep Kabupaten Sumedang menjelaskan bahwa dipilihnya Keraton Sumedang Larang sebagai lokasi penyelenggaraan Milangkala bukan tanpa alasan. 



Sebagai putra daerah Sumedang, dirinya ingin memperkenalkan sekaligus mengangkat nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal Kabupaten Sumedang kepada seluruh anggota Komunitas Asep-Asep yang datang dari berbagai daerah.



Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan merupakan hasil kerja sama yang solid antara DPD Sumedang dengan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Komunitas Asep-Asep beserta seluruh panitia.



Ketua Panitia juga menegaskan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari iuran anggota Komunitas Asep-Asep, kontribusi peserta dan tamu yang hadir, serta dukungan sponsor.



 Penyelenggaraan Milangkala tersebut tidak menggunakan bantuan dana pemerintah, melainkan murni hasil gotong royong seluruh keluarga besar Komunitas Asep-Asep.



Selain itu, Komunitas Asep-Asep secara konsisten menjalankan berbagai program kemasyarakatan, di antaranya pengajian rutin sebagai sarana mempererat silaturahmi dan meningkatkan nilai-nilai keagamaan.


 Beberapa hari sebelum puncak Milangkala juga telah dilaksanakan bakti sosial berupa khitanan massal yang mendapat sambutan positif dari masyarakat.



Ketua Umum DPP Komunitas Asep-Asep, Ir. H. Asep Shofana Mulyadi, dalam sambutannya mengajak seluruh anggota menjadikan usia satu dekade sebagai momentum memperkuat persatuan dan meningkatkan kontribusi nyata kepada masyarakat.


Menurutnya, slogan "Siliwangian" bukan hanya sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Setiap Asep harus mampu memberikan manfaat bagi keluarga, organisasi, dan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial, bakti masyarakat, serta kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.



Ia juga mengingatkan bahwa Komunitas Asep-Asep yang dideklarasikan pada 17 Juli 2016 di Kota Bandung didirikan oleh 17 orang. Sebagian di antaranya telah berpulang. Oleh karena itu, seluruh peserta diajak memanjatkan doa agar para pendiri, pengurus, dan anggota yang telah wafat mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.


Ketua Umum menjelaskan bahwa tujuan utama didirikannya Komunitas Asep-Asep adalah menghimpun seluruh potensi para Asep agar saling mendukung, bekerja sama, serta menjadi wadah aktualisasi diri sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.


Ia juga mengajak seluruh anggota untuk mengimplementasikan empat pilar utama organisasi, yaitu agama, sosial, ekonomi, pendidikan, dan pelestarian budaya. Berbagai kegiatan sosial seperti khitanan massal, pertunjukan Seni Tarawangsa, hingga rencana Tablig Akbar menjadi bukti bahwa Milangkala tidak hanya bersifat seremonial.



Mengusung semangat "Ti Asep, Ku Asep, Keur Balarea," Ketua Umum berharap seluruh anggota dapat saling memanfaatkan potensi, memperkuat jaringan antarsesama anggota dari berbagai profesi, serta membangun semangat simbiosis mutualisme demi kemajuan bersama.


Pada kesempatan tersebut juga disampaikan pesan mengenai makna dipilihnya Keraton Sumedang Larang sebagai lokasi Milangkala. Keraton dinilai sebagai tempat yang sarat nilai sejarah, budaya, dan filosofi kehidupan masyarakat Sunda.




Radya Anom R. Luky Djohari Soemadilaga Di hadapan peserta berdiri Monumen Lingga yang dibangun pada April 1922 sebagai penghormatan kepada Pangeran Arya Suriaatmaja atau Pangeran Mekah. Dalam prasasti monumen tersebut terdapat pesan bahwa bangsa akan hidup aman dan tenteram apabila dipimpin oleh pemimpin yang berhati suci dan bijaksana.



Pesan tersebut mengandung dua nilai utama, yakni agama dan budaya. Berhati suci melambangkan agama, sedangkan bijaksana merupakan simbol budaya yang bersumber dari nilai-nilai luhur Sanghyang Siksakandang Karesian, dengan kasih sayang sebagai nilai tertinggi dalam kehidupan masyarakat Sunda.


Drs. Wahyu Mijaya, S.H., M.Si.Perwakilan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Barat menyampaikan salam hormat dan permohonan maaf dari Kepala Kesbangpol Provinsi Jawa Barat yang berhalangan hadir karena mendampingi Gubernur Jawa Barat dalam agenda kedinasan.



Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kesbangpol memberikan apresiasi atas terselenggaranya Milangkala Satu Dekade Komunitas Asep-Asep. 


Menurutnya, perjalanan 10 tahun menjadi bukti nyata kekompakan, semangat kekeluargaan, serta kontribusi positif Komunitas Asep-Asep bagi masyarakat Jawa Barat.



Kesbangpol juga menyampaikan tiga pesan kepada seluruh anggota, yaitu menjaga kebersamaan dan kekompakan, meningkatkan peran sosial di tengah masyarakat, serta terus bersinergi dengan pemerintah dalam mendukung pembangunan dan menjaga kondusivitas daerah.



Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai Komunitas Asep-Asep sebagai salah satu kekuatan sosial yang mampu menjaga silaturahmi, memperkuat gotong royong, dan melestarikan budaya Sunda yang sejalan dengan visi Jawa Barat Istimewa.


Milangkala Satu Dekade Komunitas Asep-Asep diharapkan menjadi momentum untuk semakin memperkuat persaudaraan, melestarikan budaya Sunda, meningkatkan kepedulian sosial, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarak




Menteri Luar Keraton Sumedang Larang: R.Asep Sulaiman Fadil Adiwinata di sesi wawancara dengan wartawan Jurnal News Site menegaskan dalam rangkaian Milangkala Satu Dekade Komunitas Asep-Asep, Menteri Luar Keraton Sumedang Larang, Asep Suleman, turut menyampaikan pemaparan sejarah yang sarat makna mengenai filosofi nama "Asep" yang dikaitkan dengan tokoh besar Sumedang Larang, Pangeran Kornel atau Pangeran Surianagara, yang memiliki nama lahir Asep Jamu.



Menurutnya, Pangeran Kornel memimpin Sumedang pada periode 1791–1828, masa ketika dunia tengah dilanda gejolak besar, mulai dari Perang Napoleon di Eropa hingga runtuhnya VOC pada tahun 1799. Di tengah situasi tersebut, Pangeran Kornel tampil sebagai pemimpin yang berani mempertahankan martabat rakyat dan menentang berbagai bentuk penindasan pemerintah kolonial.


Ia menjelaskan bahwa Pangeran Kornel bukan sekadar tokoh lokal, melainkan sosok yang disegani pemerintah kolonial karena memiliki pengaruh besar di Tanah Jawa. Keberaniannya melawan ketidakadilan membuat Sumedang menjadi daerah yang diperhitungkan dan tidak mudah diintervensi oleh kekuasaan asing.



"Nama Asep bukan sekadar nama biasa. Di dalamnya terkandung semangat juang, kehormatan, keberanian, dan jiwa kepemimpinan yang diwariskan oleh leluhur Sumedang Larang, khususnya Pangeran Kornel," ujarnya.



R.Asep Suleman juga mengajak seluruh anggota Komunitas Asep-Asep untuk menjadikan nilai-nilai perjuangan para leluhur sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan serta terus berkarya bagi masyarakat. Menurutnya, semangat kebersamaan, keberanian, dan pengabdian harus menjadi identitas yang melekat pada setiap anggota komunitas.



Ia mengucapkan selamat atas Milangkala Satu Dekade Komunitas Asep-Asep serta berharap organisasi tersebut semakin solid, terus berkembang, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian budaya Sunda serta pembangunan masyarakat di masa mendatang.Pungkasnya

(Asep Ridwan/Jurnal News Site)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Milangkala Komunitas Asep-Asep Satu Dekade Tingkat Nasional Berlangsung Khidmat di Keraton Gedung Negara Sumedang.

Terkini

Topik Populer

Iklan