Jakarta,-Jurnal News Site
Aneh memang negeri ini. Ketika pemimpin kerja nyata dan dilaporkan langsung lewat HP, malah dihina sebagai Gubernur Konten. Ketika pemimpin tidur di kantor, tidak ada laporan kerja, malah dipuja sebagai pemimpin merakyat. Inilah logika terbalik yang sedang menyerang Kang Dedi Mulyadi atau KDM, Gubernur Jawa Barat.
Era klasik sudah hampir mati. Era digital telah mempermudah informasi di semua lapisan kehidupan makhluk hidup di dunia. Dulu rakyat harus menunggu 3 bulan untuk tahu gubernur kerja apa, harus tunggu koran, harus tunggu TV. Sekarang era itu sudah tuntas. KDM paham betul perubahan zaman ini.
Yang dilakukan KDM adalah revolusi kepemimpinan. Dia meninggalkan era klasik yang lambat, penuh protokoler, penuh pencitraan basi, menuju era digital yang transparan. Setiap hari, setiap jam, kerja nyatanya disuguhkan langsung ke publik Jawa Barat lewat dunia maya. Tidak ada jeda, tidak ada manipulasi.
Inilah yang disebut pemimpin cerdas yang mengikuti perkembangan zaman sesuai dunia algoritma. Dia tidak menunggu ditulis wartawan, tidak menunggu dipuji bawahan, tidak menunggu laporan ABS dari dinas. Dia langsung siarkan sendiri capaiannya, dari sungai yang dibersihkan, jalan yang diperbaiki, sampai pungli yang dibongkar.
Tapi anehnya di negeri ini, hal baik bukan jadi contoh, malah jadi bahan olokan. KDM yang kerja 18 jam sehari, malah dituding Gubernur Konten. Seolah-olah bikin konten itu haram. Padahal konten KDM bukan konten joget-joget, bukan konten gimmick, tapi konten kerja nyata yang bisa diverifikasi.
Lihat apa yang dia lakukan. Sungai Citarum yang puluhan tahun jadi tempat sampah, dia turun langsung. Pungli di Samsat, dia bongkar live. Jalan rusak di pelosok, dia perbaiki dan videokan. Itu bukan pencitraan, itu laporan pertanggungjawaban publik secara real time. Rakyat Jawa Barat tidak perlu lagi datang ke Gedung Sate untuk tahu gubernur kerjanya apa.
Justru pemimpin yang anti konten itulah yang harus dicurigai. Kenapa takut memperlihatkan kerjanya? Kenapa takut disorot kamera? Karena memang tidak ada kerja yang bisa disorot. Lebih mudah sembunyi di balik istilah "kerja dalam diam" padahal diamnya karena memang tidak ada kerja.
Era digital mempermudah pemimpin daerah maupun pusat untuk mempublikasikan kinerja masing-masing tanpa menunggu jeda waktu ke publik. Inilah esensi demokrasi modern. Rakyat sebagai majikan, berhak tahu setiap detik apa yang dilakukan pekerjanya yang bernama gubernur. KDM memberikan hak itu.
Tudingan Gubernur Konten adalah tudingan dari orang yang gagal paham algoritma. Dunia hari ini dikuasai algoritma. Kalau kebaikan tidak masuk algoritma, maka yang mengisi algoritma adalah keburukan, hoaks, dan judi online. KDM sedang merebut algoritma untuk kebaikan, untuk budaya Sunda, untuk kerja nyata.
Yang paling penting, KDM tetap menjaga budaya leluhur di tengah gempuran digital. Dia pakai iket Sunda, dia ngomong Sunda, dia hormat ke orang tua, dia jaga tradisi. Dia buktikan pemimpin era digital tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru digital dipakai untuk menguatkan budaya leluhur agar tidak punah.
Bandingkan dengan pemimpin klasik yang hanya muncul saat peresmian proyek, potong pita, baca teks, lalu hilang. Rakyat tidak tahu dia kerja apa 364 hari lainnya. Anggaran habis untuk baliho, bukan untuk kerja. KDM membalik itu semua. Anggaran untuk kerja, baliho diganti konten yang gratis dan bisa dilihat 40 juta warga Jabar bahkan di seluruh Indonesia.
Hal tersebut harusnya jadi contoh bagi pemimpin yang waras dan masyarakat yang paham, bukan jadi bahan olokan atau bullyan. Gubernur di seluruh Indonesia harusnya belajar dari KDM. Bupati Bogor, Wali Kota Depok, Gubernur Banten, semua harusnya bikin konten kerja nyata setiap hari, bukan konten seremonial.
Karena terlepas dari hal negatif apapun, terlihat jelas apa yang dilakukan KDM untuk rakyat Jawa Barat bukan manipulatif, tetapi kerja nyata yang langsung disiarkan lewat konten. Sungai bersih itu nyata, jalan mulus itu nyata, pungli yang hilang itu nyata. Tidak bisa dimanipulasi.
KDM adalah pemimpin yang sangat paham dengan perubahan era tersebut. Dia paham rakyat Jabar sudah digital. Petani di Cijeruk saja sudah pegang TikTok. Kalau gubernurnya masih pakai pola Orde Baru, pakai surat, pakai rapat tertutup, maka dia akan ditinggalkan rakyatnya sendiri.
Maka berhentilah menghina KDM sebagai Gubernur Konten. Sebutan itu justru adalah pujian tertinggi di era digital ini. Lebih baik Gubernur Konten yang kerjanya nyata, daripada Gubernur Baliho yang kerjanya hanya janji. Lebih baik Gubernur TikTok yang turun ke selokan, daripada Gubernur Protokoler yang hanya turun dari Alphard.
Tugas PWRI dan wartawan hari ini adalah menjaga pemimpin seperti KDM. Jangan biarkan kerja nyata dikalahkan oleh nyinyiran. Kita harus lawan balik narasi negatif itu dengan fakta. Setiap konten KDM harus kita verifikasi, kita dukung, dan kita sebarluaskan sebagai standar baru kepemimpinan Indonesia.
Indonesia butuh 38 KDM di 38 provinsi. Butuh ribuan KDM di kabupaten dan kota. Pemimpin yang tidak takut kamera, tidak takut live, karena memang kerjanya bersih. Era digital telah datang, dan KDM telah membuktikan bahwa pemimpin yang waras adalah pemimpin yang mau memperlihatkan kerja nyatanya setiap hari kepada rakyatnya.
Oleh, Dr. Suriyanto PD., SH., MH., Mkn
*) Ketua Umum PWRI

