Jurnal news site –10-9-2026. Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Cianjur periode 2026–2029, Chaeronsyah, yang akrab disapa Bang Eron, menegaskan komitmennya untuk memperkuat profesionalisme dan kompetensi jurnalis di tengah perubahan lanskap media digital.
Hal tersebut disampaikan Bang Eron dalam wawancara usai pelaksanaan Musyawarah Koordinator Daerah (Muskorda) III IJTI Cianjur yang digelar di Grand Bydiel Hotel, Panembong, Cianjur, Selasa (8/9/2026).
Menurut Bang Eron, kepemimpinan organisasi tidak dapat dijalankan seorang diri. Ia akan mengedepankan kolaborasi bersama jajaran pengurus serta meminta masukan dari Dewan Penasihat dalam menentukan arah dan program organisasi.
“Jalannya organisasi tentu tidak saya jalankan sendiri. Ada pengurus lainnya dan saya juga selalu meminta nasihat kepada Dewan Penasihat untuk langkah selanjutnya,” ujar Bang Eron.
Dorong Anggota Ikuti Uji Kompetensi Jurnalis
Salah satu perhatian utama kepengurusan IJTI Cianjur ke depan adalah peningkatan kompetensi anggota, khususnya mereka yang belum mengikuti Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ).
Bang Eron menilai UKJ merupakan bagian penting dalam proses profesionalisasi jurnalis. Karena itu, anggota yang belum mengikuti UKJ akan terus didorong dan mendapatkan pemantapan agar dapat memenuhi prosedur serta standar kompetensi yang berlaku.
“Pemantapan kepada anggota yang belum mengikuti UKJ menjadi salah satu perhatian kami. Karena itu merupakan prosedur yang harus ditempuh di IJTI,” katanya.
Pelatihan Jurnalistik Sasar Konten Kreator
Selain penguatan internal organisasi, IJTI Cianjur juga menyiapkan program pelatihan jurnalistik yang akan menyasar berbagai kalangan, mulai dari pelajar, masyarakat umum, hingga TNI dan Polri.
Salah satu fokus yang akan dikembangkan adalah memberikan pemahaman mengenai kaidah jurnalistik kepada para konten kreator.
Menurut Bang Eron, perkembangan media sosial telah mendorong semakin banyak masyarakat memproduksi dan menyebarluaskan informasi. Namun, tidak seluruhnya memahami prinsip jurnalistik, sehingga berpotensi menimbulkan persoalan hukum maupun merugikan pihak lain.
“Banyak yang menjadi konten kreator, tetapi belum memahami kaidah jurnalistik. Akibatnya, tidak sedikit yang menghadapi gugatan dan pada akhirnya turut mencederai nama baik profesi jurnalis,” ungkapnya.
Karena itu, IJTI Cianjur berencana mengembangkan pelatihan yang mengajarkan bagaimana menjadi konten kreator dengan tetap berpegang pada prinsip dan kaidah jurnalistik.
“Bagaimana menjadi konten kreator, tetapi tetap memahami kaidah jurnalistik. Dengan begitu, mereka dapat menghasilkan konten secara lebih tertib dan sesuai dengan aturan jurnalistik,” jelasnya.
Hadapi Persaingan Algoritma Tanpa Kehilangan Kredibilitas
Bang Eron menyebut perubahan algoritma media sosial menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi media dan jurnalis saat ini.
Persaingan tidak lagi semata-mata mengenai kecepatan menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana sebuah karya dapat bertahan di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Meski demikian, ia mengingatkan agar jurnalis tidak mengorbankan kredibilitas, profesionalisme, dan nama baik media hanya demi mengejar perhatian publik.
“Kita saat ini menghadapi persaingan dan distorsi algoritma. Namun, kita harus tetap menjaga eksistensi, kredibilitas, nama baik, dan profesionalisme,” tegasnya.
Ia mengakui kondisi industri media saat ini menghadapi berbagai ketidakpastian. Namun, kondisi tersebut harus dijawab dengan semangat untuk terus berkarya dan meningkatkan kualitas jurnalistik.
“Teman-teman harus tetap semangat, terus berkarya sesuai bidangnya, menjaga profesionalisme dan kredibilitas media, serta tidak bertindak sembarangan. Itu yang selalu kami jaga di IJTI,” ujarnya.
Jaga Marwah Organisasi dengan Aturan Tegas
Bang Eron juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan organisasi. Menurutnya, IJTI memiliki mekanisme dan sanksi tegas bagi an




