Iklan

Iklan

ANTARA BAHASA IBU, IBU BAHASA DAN SASTRA JENDRA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU

Jurnal News Site
Sunday, February 21, 2021, February 21, 2021 WIB Last Updated 2021-02-21T09:00:55Z


(Menakar pemikiran Mandalajati Niskala)
oleh : Asep Tutuy Turyana

Hari ini, tanggal 21 Februari 2021 diperiingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, artinya dimanapun "kita" berada yang memiliki bahasa ibu, yaitu bahasa pertama kali yang diajarkan seorang ibu kepada anaknya. Jika anak itu lahir di tanah Sunda yang memiliki ibu asli Sunda, kemungkinan ibunya mengajarkan bahasa Sunda, jika anak anaknya lahir di Padang yang ibunya asli Padang pun kemungkinan mengajarkan anaknya berbahasa Padang, begitupun yang lainnya.

Indonesia sendiri yang memiliki ratusan bahasa sudah dipastikan memiliki ratusan bahasa ibu sesuai dengan jumlah bahasa yang ada, bahkan menjadi satu-satunya negara di dunia yang memiliki bahasa ibu paling banyak.

Lalu yang jadi pertanyaan adalah, mengapa "Bahasa Ibu" harus diperingati secara Internasional, artinya di belahan bumi manapun selain Nusantara pun diperingati oleh penduduk bumi yang memiliki bahasa asli?

Apa korelasinya dengan Bahasa Inggris yang sudah dijadikan sebagai Bahasa Internasional? Apakah suatu saat nanti Bahasa Inggris akan menjadi "BAHASA IBU DUNIA?".
Bukan apriori, saya sebagai orang yang lahir di tanah Sunda yang telah meyakini bahwa Bahasa Sunda, bukan saja sebagai BAHASA IBU tapi sebagai IBU BAHASA merasakan ada semacam ketakutan tersendiri, jangan-jangan "GERAKAN MENGHAPUS SUNDA" oleh orang-orang Yahudi, Freemanson dan Illuminati benar-benar terjadi.
Koq bisa mereka disebut?

Apa sebenarnya perbedaan antara BAHASA IBU dan IBU BAHASA?
Sebelumnya sudah saya sampaikan di atas tentang makna dari Bahasa Ibu, yaitu bahasa pertama kali yang diajarkan oleh seorang ibu kepada anaknya dengan menggunakan bahasa asli ibunya.
Sedangkan IBU BAHASA adalah, Induk Bahasa, artinya Bahasa Awal / Bahasa Wiwitan / Bahasa Pertama yang diajarkan oleh Ibu Hawa (Ibu pertama di bumi ini).

Menurut Mandalajati Niskala, seorang Ahli Philsafat terkenal dari tanah Sunda, menyebutkan bahwa syarat suatu bahasa itu merupakan IBU BAHASA harus memiliki
ketentuan alamnya. Ketentuan alam ini disebut KETENTUAN FITRAH dalam berbahasa. Tentu saja semua bahasa memiliki ketentuan Fitrah karena bahasa itu lahir mengikuti ketentuan Tuhan Yang Maha kuasa.
Bahasa Fitrah yang beliau maksudkan adalah bahasa awal yang dipakai umat manusia sejak jaman Ibu Hawa”. “Jika kita mancermati secara teliti; sebuah bahasa dapat dikatakan sebagai bahasa awal umat manusia yang digunakan sejak jaman Ibu hawa, harus mampu melahirkan bahasa-bahasa turunannya. Bahasa Ibu Hawa tersebut lazim disebut sebagai Bahasa Ibu; atau Ibu Bahasa atau Bahasa Wiwitan karena memenuhi ketentuan alam SEBAGAI BAHASA AWAL.

Mandalajati Niskala juga menyebutkan bahwa bahasa Sunda sebagai BAHASA AWAL YANG DIGUNAKAN OLEH IBU HAWA, karena memiliki ketentuan alam yang tidak bisa dicapai oleh bahasa manapun. Ketentuan alam tersebut sebagai berikut:

1.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi HUKUM-HUKUM RASIONAL, yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN KOSAKATA yang tanpa limit, karena kekayaan kosakata ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’. Kekayaan kosakata yang tanpa limit ini disebut SASTRA JENDRA.

2.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi KETENTUAN IRASIONAL yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN dan KELUHURAN NILAI yang tanpa limit, kerena nilai ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’. Kekayaan dan keluhuran nilai yang tanpa limit ini disebut HAYU NINGRAT.

3.BAHASA IBU HAWA harus memenuhi KETENTUAN HIRASIONAL yaitu harus mampu menggambarkan KEKAYAAN ENERGI yang tanpa limit, kerena kekayaan energi ini akan diwariskan kepada ‘turunannya’ Kekayaan energi yang tanpa limit ini disebut PANGRUWATING DIYU”.

“Saya yakin para ahli sastra, budaya, filolog, antropolog dsb., akan bingung menyimak tiga ketentuan di atas; Walaupun notabene mereka para ahli, tetap saja mereka sangat tidak faham karena sederet gelar kesarjanaan yang dicapai selama ini dan dijadikan kebanggaan sebagai buah pendidikan hanyalah merupakan korban produk pemikiran Dajjal Barat dan Dajjal Timur, kemudian dibuat tidak sadar menjadi para propaganda pemikiran Dajjal tersebut di dalam Dunia Pendidikan”. Mandalajati Niskala menjelaskan lebih lanjut sekaligus mengklarifikasi agar tidak menimbulkah fitnah, bahwa kesalahan itu terletak pada sistem yang dibuat oleh Dajjal.

Penjelasan beliau sebagai berikut: “Saya katakan dengan tegas bahwa sama sekali para ahli di atas tidak salah, karena sistem yang dibuat oleh Dajjal yang menjadikan kita tidak sadar. Yang salah adalah dunia pendidikan tidak pernah melahirkan para filsuf yang handal dan hakiki, sehingga sistem dunia pendidikan dikendalikan Dajjal Barat maupun Dajjal Timur. Mungkin layak kita pertanyakan; Siapa Sang Produser dari Dajjal Barat dan Dajjal Timur yang bercokol disana? Saya sendiri tidak berniat untuk merubah skenario pendidikan, karena akan membuang energy dan bisa dikatakan melangkah terlalu cepat hingga akan terjebak di kubangan. Soal di atas bukan hal yang pokok dalam sebuah kebangkitan. Biarkan saja jangan hiraukan nantipun akan ada yang merobahnya”. Demikian ungkapan Mandalajati Niskala.

Bahasa Ibu merupakan Bahasa Babon atau Bahasa Bibit, yang merupakan Bahasa yang dipakai oleh Ibu Hawa, sedangkan bahasa-bahasa yang dipakai di segenap penjuru bumi merupakan bahasa turunan yang selayaknya disebut sebagai Bahasa Anak atau Anak Bahasa.

Sebagaimana kekhawatiran saya di atas, adanya Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional memiliki dua sisi nilai, yang satu nilai positifnya, bahwa kita diingatkan untuk mampu memelihara Bahasa Ibu kita, yang merupakan Bahasa Awal yang diajarkan oleh Ibu kita sejak awal, sebelum kita mengenal bahasa-bahasa lainnya setelah melalui proses pendidikan atau pergaulan di masyarakat, sehingga kita mengenal bahasa lainnya di.luar Bahasa Ibu.

Sisi.negatifnya adalah adanya kekhawatiran, mungkin sama yang dirasakan bahkan yang diramalkan oleh seorang Mandalajati Niskala, bahwa kita digiring mengikuti jalan pikiran Dajjal dan Yahudi yang sengaja berniat memanipulasi supaya manusia lupa kepada bahasa ibunya yang asli, yaitu Bahasa Sunda.

Semua bahasa dikatakan sebagai bahasa Ibu dan istilah IBU BAHASA ditiadakan diganti dengan istilah BAHASA IBU, dengan maksud untuk mempermudah memanipulasikan makna. Istilah Ibu Bahasa disembunyikan, kemudian dipublikasikan istilah Bahasa Ibu dalam berbagai konferensi bahasa untuk melahirkan definisi. Gagasan kejahatan ini berlangsung sangat tidak terasa. Intinya AKAN MENGHILANGKAN KEBERADAAN BAHASA BABON, SEBAB BAHASA BABON ITU AKAN MENGARAH KEPADA BAHASA SUNDA”.

Demikian yang dituturkan Mandalajati Niskala sambil menambahkan:
“Saya tegaskan. Sebenarnya yang dimaksud oleh Dajjal dan Yahudi bahwa BAHASA IBU itu adalah IBU BAHASA. Selanjutnya Boleh-boleh saja bahasa manapun mengatakan sebagai Bahasa Ibu atau Ibu Bahasa asal mampu memenuhi syarat-syarat sebagai bahasa ibu. Setelah istilah Ibu bahasa berganti menjadi Bahasa Ibu, maka menjadi logis bahasa Ibu itu didefinisikan sebagai bahasa ‘Si Mamah’ kepada anaknya.

Harapannya jika ibu-ibu di permukaan Bumi ini lancar berbahasa Inggris, maka dia akan merasa bangga melatihkan tutur kata keseharian kepada anak-anaknya. Suatu saat akan timbul keadaan bahwa BAHASA IBU itu BAHASA INGGRIS, karena secara realita dan fakta bahwa bahasa Inggis merupakan bahasa yang dipakai sebagai tutur kata seorang ‘Mama’ kepada anaknya di seluruh permukaan bumi. Jika kondisi sudah seperti ini maka istilah BAHASA IBU akan dikembalikan menjadi IBU BAHASA, dan logis jika dikatakan bahwa IBU BAHASA adalah BAHASA INGGRIS.. . . . Heheheh……,

KOP BAÉ MANGGA DAJJAL UPAMI TIASA MAH….!’” .

Mandalajati Niskala membeberkan lebih rinci sebagai berikut:
“Inilah rekayasa akibat kedengkian Dajjal. Ketahuilah bahasa terlahir bukan atas sebuah kesepakatan atau rekayasa manusia. Bahasa akan terlahir mengikuti kaidah alam yang fitrah; yang merupakan ‘energy kalam’ dari PURAGABASA, UNGKARABASA, TANGARABASA, UGABASA dan WARUGABASA.

Di sisi lain ada yang namanya AZASI BAHASA dan ‘PANCA MAHA BUTA’. Tentu saja semua orang ‘BLENG’ termasuk ‘SANG JURU REKAYASA’ terhadap istilah dan kosakata di atas. Bahasa adalah energi kalam yang muncul alami selaras dengan cakupan alam. Cakupan alam dalam ruang lingkup Semesta Jagat Raya, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA TUHAN atau selanjutnya menjadi BAHASA KHALIFAH. Cakupan alam dalam ruang lingkup Bumi, maka logis bahasa itu dikatakan sebagai BAHASA IBU atau disebut sebagai BAHASA IBU HAWA.

Nah, sekarang bagaimana kita, khususnya yang lahir di tanah Sunda, akankah merelakan semua itu terjadi? Bagaimana kita bisa mempertahankan BAHASA SUNDA sebagai BAHASA IBU bahkan mengembalikan lagi sebagai IBU BAHASA, sementara kita saat ini sudah enggan lagi menggunakan Bahasa Sunda dalam keseharian kita. Yang lambat laun akan menjadikan Bahasa Sunda sebagai Bahasa Asing di dalam rumahnya sendiri.

Semoga mulai saat ini, kita sadar bahwa begitu bahagia dan bangganya kita mewarisi IBU BAHASA , Bahasa Bibit yang telah melahirkan bahasa-bahasa lainnya di dunia.
Tapi kebanggaan itu akan menjadi jargon belaka, jika kita sudah enggan dan malu menggunakan BAHASA SUNDA dalam keseharian kita.

BAHASA SUNDA mungkin satu dari beberapa artefak yang tersisa dari Kejayaan Sunda di.masa lalu. BENUA SUNDA (Sundaland) sudah hilang dalam peta, begitu juga Sunda Besar dan Sunda Kecil serta Dangkalan Sunda pun ikut lenyap. Hingga suatu saat identitas SUNDA kita akan ikut lenyap semuanya.
Mungkin salah satu juga yang perlu kita dukung bersama adalah rencana mengembalikan nama PROVINSI JAWA BARAT menjadi PROVINSI SUNDA pun harus kita dukung secara penuh dalam upaya MENYELAMATKAN SALAH SATU IDENTITAS KITA sebagai BANGSA SUNDA.

Cag..

Bandung, Ahad 21 Februari 2021.Masehi / Radite kaliwon, 2 Suklapaksa sasih Yesta taun 1957 Caka Sunda, wuku Mandasia / Radite kaliwon , 2 Katiga taun 1943 Saka Sunda / Ahad, 9 Rajab 1442 Hijriyyah

Asep Tutuy Turyana
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • ANTARA BAHASA IBU, IBU BAHASA DAN SASTRA JENDRA HAYU NING RAT PANGRUWAT ING DIYU

Terkini

Iklan